Ya Allah, Tuhanku yang Agung dari segala yang agung, izinkan Aku malam ini membuka pintu Magfiroh-Mu dan menyerahkan segenap jiwa ragaku atas segala permasalahanku kepada-Mu.
Ya Allah, Kau ciptakan udara untuk paru-paruku.
Kau berikan makanan untuk hidupku. Kau ciptakan matahari dan bulan untuk menerangiku.
Kau padukan mata, tangan, kaki, otak dan badanku untuk bertingkatu. Tapi aku masih belum menyadari akak, dugrah-Mu pada kehidupan ku.
Kau sandingkan Aku dengan saudara saudaku, istri atau suami dan anak-anakku, Namun, Aku belum memberikan dapa-apa bagi-Mu selain meminta dan meminta. Aku merengek-rengek hanya untuk meminta pada-Mu.
Maafkan Aku ya Allah.
Ibu, kau sudah bersusah payah Menggendongku 9 bulan 10 hari dalam masa kehamilan-ku
Kau lahirkan aku, dengan menahan jeritan sakit, dan taruhan nyawa mu ibu. Kemudian kau menyusui, menimangku, kau rawat ketika aku sakit, kau suapi
ketika aku belum mampu makan dan membesarkanku hingga kini. Tapi itu sampai kini kau tidak pernah menagih jasa padaku, bahkan sampai meninggal pun, ibu hanya tersenyum melihat tingkah polahku ini.
Ibu, maafkan aku. Anak mu yang tidak tahu akan balas budi. Yang sering membentak, menolak permohonan mu, bahkan menyakiti hati mu. Wahai ibu, sungguh maafkan anak mu ini …. Kini hanya tangis dan air mata yang sanggup membasahi kesedihanku padamu.
Ayah Entah berapa banyak keringatmu untuk keberhasilanku. Kau bersusah payah membiayaiku.
Kau tegarkan tulangmu hanya untuk anakmu ini. Tapi, mengapa saya masih saja membanggakan diri sendiri dan melupakanmu. Bahkan, sampai engkau tiada, aku jarang berdoa untukmu. Ayah, maafkan anakmu ini, yang Kurang berbakti padamu.
Ya Allah
Wahai ayah….., ibu…. darah daging yang menurunkanku. Kini, aku anak mu akan didaulat menjadi seorang Pembina Pramuka Mahir Tapi, mampukah aku….?
Rasanya aku terbebani, dan teramat berat jika disebut pembina mahir. Karena harus menjadi teladan pada diri sendiri dan orang lain.
Ayah …. Ibu …. kini aku merasa belum mampu menjadi teladan, sepertimu
Ilmuku masih setengah-setengah, tetapi aku mulai pongah. Kemahiranku apa adanya, tetapi aku seolah-olah mahir segalanya. Hatiku masih bertabur bimbang, tetapi aku seakan senang. Pikiranku masih kosong, tetapi aku mulai berlagak sombong. Aku pembina, tetapi hanya sebagai topeng terbina. Akulah pecundang!
(Wahai anak ku betulkah kamu pecundang? bukan pecundang) Aku orang tua mu yakin, kamu bukan pecundang)
Ridloku pada mu wahai anak ku,…… kini ucapkan dengan lantang) ….. AKU PEMBINA, BUKAN PECUNDANG……………..
(Wahai anak ku jadilah pembina sejati jangan menjadi pembina berpura-pura, Ikhlaskan hati dan tegaskan jiwamu)
Aku bukan pecundang…. Aku bukan pecundang Aku bukan pecundang
Dengan ridlo ayah dan ibu ku
Kini, aku menundukkan kepala dengan segenap jiwa kepada-Mu Ya Allah….. memasuki hati yang paling dalam, untuk menemukan siapakah aku sebenarnya.
(Kini pasrahkan segalanya kepada Allah SWT. Dan berharap besar kepada-Nya…)
Kini hatiku berbisik kepada ku ya Allah …..’
“Aku seorang pembina yang sesungguhnya pembina mahir.”
“Aku bukan pecundang!”.
Aku bersaksi dengan-Mu, Ya Allah. Wahai Ibu dan Ayah….ku, yang sekarang sedang tersenyum melihatku di sini, untuk berikrar jadi Pembina. Aku akan mengabdi kepada diriku, orang lain, bangsa, dan negaraku yang kucintai ini, demi ridloh Tuhan, jasa mu wahai ayah dan ibu
Kini aku bertekat….. Tiap waktu, tiap saat, aku akan mengisi gelas ke pembina ku dengan sesungguhnya. Kepada ya Allah aku kan selalu bersyukur….
Kepada mu wahai ayah dan itu aku akan selalu berbakti Kepada sesama pembina, aku akan santun dan sopan karena mereka adalah kolegaku.
Kepada para Pembina dan Peserta didik, Kutekatkan hati, jiwa dan ragaku akan melayanimu, Karena kalian adalah nafasku.
Kepada bangsa dan negaraku, Indonesia. Aku akan membelamu melalui pengabdianku.
Untuk itu, kini AKU BERSUMPAH. AKULAH PEMBINA MAHIR SEJATI
Jika kamu pembina sejati, bersediakah Anda mengucap janji Trisatyamu?….
berdoa sejenak sebelum menyatakan…
Jika bersedia, ucapkan dengan lantang,
“AKU BERSEDIA!”
Selanjutnya,
mendekatlah ke bendera Merah Putih Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berada di dekatmu.
Hormat kepada sang MerahPutih, Raih ujung bendera dan letakan tepat di dada kiri detak jantungmu Ucapkan janjimu: SATYA PRAMUKA, dengan Lantang.

